
Play/Download
Sinar matahari masuk melalui jendela kamar. Jam dinding
menunjukkan pukul 6 pagi memang, namun sinar matahari sudah amat terang.
Pak Tanba terbangun dari tidurnya. Sejenak ia tak sadar ia di mana,
tetapi saat melihat sosok gadis muda yang tidur di sampingnya, lelaki
paruh baya asal Ambon ini sadar ia di mana. Ya, Pak Tanba tengah tidur
di sebuah kamar milik gadis muda bernama Ayu Dyah. Gadis muda yang telah
menyerahkan keperawanan dan kemudaannya kepada sopir taksi paruh baya
bertubuh hitam besar itu. Pak Tanba tersenyum, masih terbayang di
ingatannya saat-saat penis besar hitamnya merenggut kegadisan gadis muda
yang kini tengah tidur pulas di pelukannya. Juga terbayang saat-saat ia
memuncratkan air mani yang telah lama disimpannya di liang vagina
sempit gadis cantik ini. Pak Tanba merasa beruntung. Di saat ia tidak
pernah bersenggama dengan wanita lain, selain istrinya selama 28 tahun,
pria bertampang khas Ambon ini justru menikmati keperawanan seorang
gadis muda. Di saat rekan-rekan sesama sopir taksinya harus menyewa PSK
untuk berhubungan intim, ia mendapatkan gadis yang masih murni. Pria
berkepala botak ini lalu tersenyum. Ia menatap gadis muda yang masih
lelap tertidur akibat lelah bersetubuh dengannya. Wajahnya amat cantik
dan polos, membuat penis Pak Tanba kembali tegang. Tapi Pak Tanba tidak
ingin mengusik tidur kekasih mudanya itu. Perlahan ia bangkit dari
tempat tidur dan menuju kamar mandi. Tampak dari celana boxer yang
dikenakannya, penis gagah yang semalam mengobrak-abrik vagina Ayu,
mencuat dan terlihat menggembung. Pak Tanba memang memiliki penis hitam
besar sepanjang 19 cm dan itu membuatnya amat bangga. Pria bertubuh
hitam besar itu berjalan pincang menuju kamar mandi. Ia mencuci muka
hitam berhidung lebarnya dan menggosok giginya. Penampilan fisik Pak
Tanba sekilas mirip aktor berkulit hitam Forest Whitaker. Pak Tanba
melihat wajahnya di cermin. Ia tidak tampan, malah terkesan menyeramkan.
Ia tersenum sendiri menyadari keberuntungannya telah menaklukkan
seorang gadis muda yang belum pernah berhubungan seks sebelumnya. Pak
Tanba lalu keluar dan mengambil ponsel jadulnya. Ia sadar harus
mengabari anak istrinya di rumah, bahwa ia tidak akan pulang ke rumah
hari ini. Pak Tanba sadar diri, ia tidak bisa meninggalkan Ayu yang
semalam sudah memberinya kepuasan, seperti meninggalkan pelacur. Gadis
muda itu tidak meminta bayaran sepeser pun atas hubungan intim semalam.
Bahkan selama ini, Ayu yang memberi uang banyak atas jasanya menjadi
sopir taksi. Pak Tanba lalu keluar kamar menuju ruang tamu rumah Ayu
yang mewah. Sembari kagum dengan kemewahan ruman itu, Pak Tanba menelpon
ponsel anak bungsunya. Terdengar nada sambung.
“ Iya pak. Bapak nggak jadi pulang?” terdengar suara anak perempuan, anak bungsu Pak Tanba yang kini sudah berusia 25 tahun.
‘ Nggak. Bapak masih di luar kota. Semalam oleh pelanggan , Bapak
dilarang pulang karena sudah jam 2 subuh. Bapak diskasih tempat
menginap, “ ujar Pak Tanba berbohong.
Padahal pria hitam besar yang sudah memiliki satu cucu ini sedang berada
di sebuah rumah yang hanya berjarak paling lama, 45 menit , ke
rumahnya.
“Oh gitu ya pak. Semoga bayarannya sesuai, ya pak. Bapak sudah makan?”
“ Oh iya bayarannya amat memuaskan. Bapak sudah makan.” Jawab Pak tanba.
Tentu saja memuaskan, karena bayarannya adalah tubuh seorang gadis
perawan.
“Ibumu mana?” jelas Pak tanba basa-basi. Padahal ia tahu jam seperti ini
istrinya sedang membeli kebutuhan untuk warung kecil mereka.
“ Masih belanja di pasar pak. Sudah dulu ya pak. Saya mau berangkat kerja, “ ujar anak Pak tanba sopan.
“ Ya. Hati-hati di jalan ya, “ tutup Pak Tanba.
Pak Tanba merenung. Ia merasa hidupnya sangat indah. Ia
punya keluarga yang saling menyayangi, dan kini ia juga seorang
selingkuhan berusia muda yang baik, kaya dan tidak menuntut. Pak Tanba
tersenyum puas. Ia sangat menikmati hidupnya. Ia lalu coba berolahraga
sebentar di taman belakang rumah Ayu Dyah, sembari melihat-lihat seisi
rumah. Sementara di kamar, Ayu mulai terbangun. Ia merasa tidurnya amat
pulas sehabis melakukan hubungan seksual pertamanya dengan Pak Tanba.
Saat tersadar sepenuhnya, hal pertama yang dicarinya adalah Pak Tanba.
Ia mencari pria paruh baya yang sudah memerawaninya itu. Ayu lalu
bangkit lalu memeriksa halaman depan dari jendela kamarnya. Tampak taksi
milik Pak Tanba masih terparkir, tanda pria jantan itu belum pergi dari
rumahnya.
Ayu pun tersenyum. Ia merasa Pak Tanba adalah pria bertanggung jawab. Ia
pun segera mandi dan menyegarkan tubuh, lalu menuju ruang tamu. Ayu
mencari Pak Tanba ke sekeliling rumah, lalu gadis muda nan cantik ini
mendengar suara di halaman belakang. Di sana ia mendapati pria Ambon
bertubuh tinggi besar itu sedang berolahraga ringan dan push-up. Dalam
hati ia maklum, kenapa di usia yang sudah 48 tahun, Pak Tanba masih
memiliki stamina kuat. Diperhatikan tubuh agak gendut pria hitam besar
itu sedang berolahraga. Ayu tersenyum mlihat gerakan Pak Tanba yang agak
lucu. Ia juga melihat bagaimana penis besar hitam yang semalam
merenggut keperawanannya tergantung-gantung di balik celana boxer Pak
Tanba. Terlihat lemas, tapi masih gagah. Ayu tidak ingin mengganggu
ritual Pak Tanba. Gadis muda ini lalu memutuskan membuat sarapan, karena
jam sudah menunjukkan pukul 07:05 pagi.
Meski anak semata wayang keluarga kaya, Ayu bukan tipikal gadis manja.
Ia mandiri dan bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun, memang ia
kurang kasih sayang orang tuanya yang tinggal di Bali. Mungkin hal
inilah yang membuat Ayu merasa nyaman berhubungan dengan pria dewasa
seperti Pak Tanba. Pak Tanba yang sudah cukup berkeringat lalu masuk ke
dalam rumah. Ia mendengar suara televisi dan mendapati Ayu Dyah sudah
bangun dan memakai kimono menyiapkan sarapan. Pak tanba semakin kagum
atas gadis muda yang meski kaya dan cantik, namun tidak manja.
“ selamat pagi pak, “ ujar Ayu ramah.
“ selamat pagi juga non, eh, Ayu, “ Pak Tanba gugup.
Meski sudah berhubungan intim semalam, Pak Tanba masih merasa canggung
berdekatan dengan Ayu. Pak Tanba merasa ia yang hanya sopir taksi tidak
pantas berhubungan dengan gadis muda itu. Terlebih usia mereka amat
jauh, Pak Tanba sudah punya satu cucu, sementara Ayu masih gadis (yang
sudah tidak perawan olehnya).
“Pak ini sarapan untuk bapak. Kita makan bareng yok,” ujar Ayu dengan riang.
Pak Tanba tersenyum. Ia memang lapar. Apalagi semalam sudah bekerja
keras menumpahkan air mani yang amat banyak di lubang vagina Ayu. Mereka
lalu makan bersama. Menu sarapannya adalah nasi goreng buatan Ayu yang
dilengkapi dengan telur mata sapi, sosis dan udang. Juga ada buah-buahan
dan juga susu, serta jus yang segar. Dalam hati Pak tanba yang biasanya
sarapan nasi uduk tetangga, merasa ini amat mewah.
Mereka makan sambil berbincang. Ayu yang merasa Pak Tanba
masih malu-malu, mencoba memancing percakapan. Lalu mengalirlah
percakapan yang disertai humor. Sesekali mereka nampak malu, bila
mengingat persetubuhan semalam. Mereka makan amat lahap, akibat enerji
yang terkuras setelah persetubuhan dahsyat semalam. Seusai menyantap,
Ayu membereskan meja makan dengan dibantu Pak Tanba. Mereka seperti
pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk asmara. Setelahnya, Ayu lalu
menuntun tangan Pak Tanba untuk menuju ruang tamu. Di sana mereka duduk
berdampingan, sambil menonton TV. Kepala Ayu disandarkan ke bahu kokoh
Pak Tanba. Pak Tanba merasa amat bahagia. Pria Ambon paruh baya itu juga
terangsang oleh harum tubuh selingkuhan mudanya ini.
“ Pak Tanba nggak narik taksi Sabtu ini?” Ayu memulai percakapan.
“ Rencananya sih narik. Tadi Bapak udah nelepon rumah dan bilang nggak
akan pulang hari ini karena langsug narik. Maklum kejar setoran bapak
kan Cuma dari taksi. Tapi tadi nggak tega ninggalin Ayu, “ ujar Pak
Tanba sambil tersenyum.
Ayu tersenyum senang. Ia lalu bangkit dan mencium pipi Pak Tanba. Pak
Tanba menoleh, lalu mereka berciuman dan berpagutan cukup lama.
“ Pak Tanba di sini aja hari ini. Biar uang setpran bapak, Ayu yang tanggung, “ ujar Ayu.
“ Bapak nggak enak Ayu. Ayu sangat baik terhadap bapak. Ayu selama ini
udah bayarin taksi bapak. Terus semalam Ayu rela bapak tiduri. Bapak
nggak mau menyusahkan, “ jelas Pak Tanba jujur.
Mata tuanya menatap wajah gadis muda yang kini jadi kekasihnya itu. Ayu tersenyum.
“ Ayu gak merasa disusahkan oleh bapak. Soal setoran taksi kan wkatu itu
status Ayu pelanggan taksi bapak. Soal semalam, kan kita sama-sama puas
pak, “ Ujar Ayu tersenyum manja.
Pak Tanba merasa tersentuh lalu kembali melumat bibir merah gadis muda
ini. Mereka berciuman dengan panas. Lidah mereka saling berkaitan dan
bertukar air liur. Acara televisi tidak mereka hiraukan, yang ada mereka
saling bercipokan memadu kasih. Pak Tanba yang sudah terangsang lalu
menggerakkan tanganya meraba payudara Ayu dari balik kimononya. Sarapan
bergizi membuat stamina keduanya bangkit dan siap untuk memadu kasih.
Terdengar erangan dari Ayu saat tangan besar hitam Pak Tanba
menggerayangi kedua payudaranya. Kedua tangan Ayu meraih wajah hitam dan
kepala botak Pak Tanba. Pak Tanba lalu mengalihkan ciuman dan jilatanya
ke telinga kiri Ayu. Telinga memang salah satu titik rangsang bagi
gadis muda ini. Segera saja desahannya semakin besar.
“ Ohhh paaak terusss..geliii” desah Ayu sambil memejamkan mata, menikmati jilatan dan ciuman Pak Tanba.
Suhu semakin memanas. Pak Tanba segera mengaarahkan ciuman dan
jilatannya ke leher jenjang Ayu. Ayu semakin tak terkontrol. Kepala
botak Pak Tanba diremasinya, sementara sang lelaki paruh baya itu
meninggalkan jejak cupangan ke leher selingkuhan mudanya itu. Aroma
keringat Pak Tanba yang habis berolahraga membuat Ayu makin terangsang.
Aroma khas jantan itu membuat fantasinya semakin melambung. Ia
memejamkan mata menikmati setiap jilatan dan ciuman Pak Tanba di
lehernya. Pak Tanba lalu menghentikan ciumannya. Wajah nakalnya
tersenyum pada Ayu.
“ Ayu bapak ingin netek dan nyusu. Boleh?” ujar lelaki Ambon ini menyeringai.
“ Bapak kan tadi sudah minum susu?” canda Ayu manja sambil meleletkan lidah.
Lidah itu kemudian disambar oleh Pak Tanba, mereka kembali berciuman
dengan panasnya. Tangan kekar hitam Pak tanba lalu menarik kimono Ayu.
Segera saja terpampang dua buah dada milik Ayu yang putih sekal, dihiasi
puting berwarna merah muda yang sudah mengacung keras. Segera saja
bibir hitam Pak Tanba mengulum buah dada bagian kanan Ayu. Buah dada
berukuran sedang itu habis masuk ke mulut Pak Tanba. Sembari mengemut,
Pak Tanba memainkan lidahnya di puting merah muda Ayu.
“ ooogggghh paaak enaaak” desah Ayu.
Bergantian Pak Tanba mengemut dan menjilati dua buah dada Ayu tersebut.
Tak mau diam, tangan kanan pria Ambon ini meraba
selangkangan Ayu yang tertutup oleh celana dalam berwarna merah muda. Ia
lalu memasukkan tangan kanannya yang hitam berotot dan menggosok
permukaan vagina sempit yang mulai basah itu. Desahan Ayu semakin kuat.
Tangannya menekan kepala botak Pak Tanba agar terus menghisapi buah
dadanya. Sementara kakinya mengangkang lebar,membiarkan dua jari tangan
kanan Pak tanba memasuki lipatan vaginanya.
“ oohhh enaaak paaak…terusss” desah Ayu semakin liar.
Kegiatan seks pagi hari di atas sofa itu membuat tubuh keduanya
mengeluarkan keringat. Jari-jari tangan Tanba sudah basah oleh cairan
vagina Ayu yang mulai mengalir akibat rangsangan di payudara dan lubang
kemaluannya. Ayu mulai berani. Ia menarik kepala Pak Tanba dan menciumi
mulutnya. Kedua berpagutan dengan amat bergairah. Desisan dan desahan
Ayu tertutup oleh ciuman lembut dan jilatan nakal Pak Tanba. Ayu yang
semakin panas lalu berinisiatif membuka kaos Pak Tanba. Pak Tanba
menghentikan sementara kocokan jarinya di lubang vagina Ayu, dan pasrah
saat kekasih mudanya itu melepas kaosnya. Segera saja tubuh hitam besar
dan tambun Pak Tanba tidak memakai baju lagi. Keringat sudah membuat
tubuh hitam tuanya mengkilat. Terlihat seksi bagi Ayu. Ayu kini mulai
aktif. Ia lalu menciumi leher Pak Tanba membuat pria paruh baya asal
Ambon ini mendesah. Tak ketinggalan jilatan dan ciuman liar Ayu turun ke
dada. Kini gadis muda yang sudah hilang perawan itu menjilati dada
bidang dan kekar Pak Tanba. Tak ketinggalan Ayu sedikit menggigit puting
susu Pak Tanba yang hitam dan besar itu.
“aaaahhh… enak ayuuu..oooh” Pak Tanba mendesah memejamkan mata. Kepalanya menegadah.
Di satu sisi Pak tanba kaget dengan sikap Ayu yang mulai liar. Selama
berhubungan dengan istrinya, Pak Tanba selalu menjadi pihak yang aktif.
Kini Ayu berubah agresif dan menjilati tubuhnya yang sudah basah oleh
keringat. Pak Tanba amat menikmatinya. Ia merasa amat beruntung. Tangan
mulus Ayu pun segera menggerayangi penis besar Pak Tanba yang masih
tertutup boxer. Pak Tanba semakin belingsatan. Tubuhnya menegang dan
desahan keluar dari mulut lelaki bertubuh hitam besar itu. Ayu tersenyum
puas atas keberhasilannya merangsang Pak Tanba. Ia lalu menciumi
kembali mulut Pak Tanba, sementara tangan Pak Tanba kembali memeras
payudara Ayu dengan lembut. Ayu kemudian menghentikan rangsangannya
sesaat. Hal ini membuat Pak Tanba heran.
“Kok berhenti?” ujarnya.
Ayu tersenyum.
“ Pak aku boleh nggak ngeliat penis bapak? Terus boleh nggak aku kulum?” tanya Ayu manja.
Pak Tanba kaget, namun senang. Selama dengan istrinya, ia belum pernah
merasakah penis kebanggaannya dikulum. Pertanyaan Ayu membuatnya
tersenyum.
“memang Ayu mau mengulum kontol bapak yang gede ?” tanya Pak Tanba sembari tersenyum.
Ayu mengangguk. Lalu Pak Tanba memelorotkan celana boxer-nya dan membuat
penis besar hitamnya menangguk perkasa. Ayu kemudian turun dan menatap
penis hitam besar yang sudah merenggut keperawanannya semalam itu. Ia
menatapnya dengan kagum. Penis itu panjangnya 19 cm. berwarna hitam,
berdiamater besar dan memiliki urat-urat menontol. Kepala penis yang
disunat itu pun berwarna hitam kecoklatan. Amat besar seperti kepala
jamur. Diapit oleh paha gempal milik lelaki Ambon itu, buah zakarnya
juga berukuran besar dan kencang. Penis itu ditumbuhi bulu jembut lebat
keriting berwarna hitam. Ayu menatap dan memegangi batang penis besar
hitam tersebut. Lalu perlahan lidahnya mulai menjilat batang, bak anak
kecil menjilati permen.
“oooohhh enak sayaaaaang” desah Pak Tanba.
Ayu semakin semangat menjilati batang berurat kekar itu.
Lidahnya yang membasahi batang penis hingga terlihat mengkilat. Aroma
khas kejantanan pria membuat Ayu semakin terangsang. Vaginanya mulai
basah oleh perbuatannya sendiri. Ayu menjilati seluruh permukaan batang
penis hitam gede Pak Tanba dengan telaten. Tak semili meter pun yang ia
luput untuk menjilatinya. Tangan mulus Ayu tak lupa meremas buah zakar
Pak Tanba dengan lembut. Perlakuan ini semakin membuat Pak Tanba
mendesah penu nikmat. Matanya terpejam, mulutnya menganga dan ia
menengadahkan kepalanya. Sesekali ia melihat reaksi Ayu menjilati batang
penisnya. Pemandangan gadis cantik muda menjilati batang penisnya,
membuat Pak Ayu makin terangsang. Ayu semakin liar. Ia kini menjilati
lubang kencing di kepala penis Pak Tanba. Ia jilati cairan pre-cum
bening yang sudah muncul. Tak puas, Ayu lalu mengulum kepala penis
lelaki Ambon itu. Kepala penis hitam kecoklatan yang besar itu
dijilatinya dengan lembut. Ayu lalu berusaha memasukkan penis hitam
besar Pak Tanba ke mulutnya.
“Aaaaaahhh enak bangeeet sayaaang, “ desah Pak Tanba yang belum pernah dioral seks sebelumnya.
Pak Tanba lalu memegangi kepala Ayu, lalu membimbing gadis muda itu
untuk bisa mengulum penis andalannya. Tentu saja mulut Ayu yang mungil
tidak sanggup menelan seluruhnya penis Pak tanba yang berukuran jumbo
itu. Sesekali nampak gadis itu tersedak dan seperti kelolotan.
“ Jangan dipaksa sayaaang, “ ujar Pak Tanba dengan suara berat menahan
nafsu, Mata pak Tanba berubah sayu, ia mendsah merasakan hangatnya mulut
dan lidah Ayu memanjakan batang penisnya.
Segera saja batang penis hitam besar Pak Tanba menegang dengan maksimal.
Tak ingin memuntahkan air mani ke mulut Ayu, Pak Tanba segera menarik
Ayu dan mencium mulutnya. Ciumannya berubah menjadi ganas dan liar. Ayu
menanggapinya dengan semangat. Ia senang dengan sikap liar dan jantan
yang ditunjukkan lelaki paruh baya itu. Sambil berciuman, tangan kiri
Ayu masih mengocok batang penis kekasih tuanya itu. Pak Tanba yang
seudah terangsang berat, lalu menidurkan Ayu di sofa. Tubuh mungil itu
ditindih badan besar hitam lelaki Ambon itu dan Pak Tanba mengangkangkan
kaki Ayu lebar lebar. Ia malepaskan celana dalam milik Ayu. Gadis itu
pun membantu dengan mengangkat pantatnya. Pak Tanba membuang celana
dalam Ayu ke atas karpet ruang tamu. Lalu dengan ganas pria paruh baya
bertubuh gempal ini menyasarkan ciuman dan jilatannya ke lubang vagina
Ayu.
“oooh paaakkk enaaaaak, “ desah Ayu.
Pak Tanba lalu membuka lipatan vagina Ayu dengan dua jarinya, terlihat
vagina yang semalam sudah diperawaninnya itu merekah memperlihatkan isi
dalam dan klitoris warna merah muda sang gadis.
Dalam hati Pak tanba merasa heran. Meski semalam penis besarnya sudah
membobol vagina perawan Ayu, pria Ambon ini melihat vagina itu masih
rapat, tanpa terlihat bekas luka. Terlihat masih seperti vagina perawan.
Namun Pak Tanba tak mau ambil pusing. Nafsunya yang sudah di ubun-ubun,
membuat pria gempal ini segera mencium dan menjilati vagina Ayu.
Kelentitnya juga dijilati. Ayu merasa gatal yang amat sangat di
vaginanya, saat lidah kasar dan basah Pak Tanba menjilati vaginanya.
Sembari menjilat tangan Pak Tanba pun tak luput mengobok lubang
kenikmatan itu. Hal ini membuat Ayu semakin menjerit. Ia meremas sendiri
payudaranya, matanya terpejam dan kepalannya menengadah. Ia mendesis
dan mendesah.
“Ohh yesss paaaak… enaaakk”
Lubang vagina Ayu semakin becek oleh cairannya sendiri. Cairan itu
membasahi dua jari Pak Tanba yang terus asik mengocoknya. Tak butuh
waktu lama, Ayu merasa terbang ke awang-awang. Lubang vaginanya semakin
gatal dan ia semakin meremas payudaranya sendiri.
“ Oohh paaak aaaku sampeeee” jerit Ayu di ruang tamu itu. Ayu menekukkan
badannya ke atas, matanya terpejam dan akhirnya cairan orgasmenya
menyemprot keluar.
“ croot..croot.” Cairan orgasme Ayu menyembur kuat hingga ke wajah hitam Pak Tanba yang tepat di depannya.
Pak Tanba tersenyum puas melihat Ayu orgasme dengan
dahsyatnya. Ia membersihkan cairan orgasme Ayu yang menyemprot ke
wajahnya dengan telapak tangan kekarnya. Ia sedikit menjilat cairan yang
terasa gurih itu.Pak Tanba lalu naik menindih tubuh lemas Ayu. Mulut
dan lidahnya kembali menjilati leher. Telinga dan payudara Ayu. Tak
butuh waktu lama bagi Ayu untuk pulih dari lemasnya. Ia membalas cipokan
Pak Tanba ke mulutnya dan tubuhnya siap untuk menerima sodokan batang
kekar kekasih tuanya itu. Pak Tanba lalu merentangkan kaki Ayu yang
terguling di atas sofa. Ia menaikkan kedua kaki Ayu ke bahu kekar
hitamnya. Tangan kanan Pak Tanba lalu membimbing penis besar hitamnya
untuk memasuki leubang vagina Ayu. Meski sudah merasakan penis itu
semalam, Ayu masih deg-degan saat kepala penis Pak Tanba yang besar
mencoba memasuki lubang sempitnya. Pak Tanba mencoba menguak lubang
vagina Ayu dengan du jarinya. Setelah merasa kepala penisnya terjepit
bibir vagina Ayu, pria tambun itu mencoba mendorong penisnya masuk.
“ooohhhh” baik pak tanba dan Ayu mengeluh merasakan nikmat.
Pak Tanba merasa, meski semalam sudah memerawani Ayu. Lubang vagina
gadis itu masih amat sempit. Hal ini membuatnya takjub. Kepala penis
pria itu masih sulit menembus lubang kenikmatan Ayu.
“Jangan dibuat tegang Ayu. Santai saja ya, “ ujar Pak tanba dengan suara berat menahan nafsu.
Ayu pun mencoba santai, yang membuat kepala penis Pak Tanba bisa
terjepit sempurna bibir vaginanya yang mulai terkuak. Perlahan Pak Tanba
mendorong penisnya masuk dan dibantu oleh cairan vagina Ayu, kepala
penis besar itu bisa masuk perlahan.
“ogggghhh enaknya” desah Pak Tanba sembari memejamkan mata.
Ayu pun mengerang menahan perih, sekaligus nikmat. Pak tanba merasa
kepala penisnya dijepit dengan sempurna dan diremas-remas oleh dinding
vagina Ayu. Pak Tanba terus memasukkan lubang penisnya secara perlahan.
Ditarik sedikit, kemuddian ditekan lagi. Begitu berulang-ulang. Batang
penis Pak tanba yang menggesek klitoris Ayu, membuat gadis muda ini amat
terangsang. Cairan vaginannya semakin banyak tertumpah. Penis pak Tanba
pun terus perlahan masuk dan akhirnya hampir separuh batangnya masuk
sempurna ke lubang itu. Pak Tanba mencoba mendiamkan batang penisnya
sejenak. Meresapi kenikmatan pjatan dinding vagina sempit Ayu di batang
kekarnya. Hal ini dilakukan Pak Tanba agar vagina sempit Ayu terbiasa
menerima ukuran penis besarnya itu. Ayu pun merasa liangnya penuh, meski
baru separuh batang Pak Tanba yang memasuki vaginanya. Gadis ini
mendesah nikmat, menikmati setiap kedutan urat penis PakTanba di dalam
vaginannya. Sesudah cukup merasa beradaptasi, Pak Tanba mulai menggenjot
batang penis hitam besarnya ke vagina Ayu. Keluar masuk, secara
perlahan dan penuh perasaaan. Tubuh Ayu dan Pak Tanba sudah basah oleh
keringat. Tubuh hitam tambun Pak Tanba tampak mengkilat menimbulkan
kesan perkasa dan macho. Pantat hitam besar gempal milik Pak Tanba maju
mundur sering upayanya menggenjot batang pelernya ke vagina Ayu. Di
ruang tamu yang sepi itu kini terlihat tubuh hitam besar Pak Tanda
menindih dan mengangkangi tubuh putih mulus Ayu. Terlihat amat kontras
dan seksi. Ayu sendiri sudah pasrah oleh nikmat birahi. Wajah cantiknya
terlihat menikmati setiap genjotan batang Pak Tanba. Mulutnya terpejam
dan mulutnya mengeluarkan desahan.
Pak Tanba sendiri memicu tubuhnya dengan penuh bertenaga. Kedua kaki
jenjang Ayu tersandar di bahu kokohnya dan matanya melihat tajam ke arah
wajah Ayu yang terpejam menikmati genjotannya. Ia semakin terangsang
melihat reaksi muka Ayu. Pejantan paruh baya Ambon ini mendengus setiap
kali penis besar hitamnya menembus vagina Ayu, otot-otot tubuhnya
menegang dan terlihat seksi. Sekitar 7 menit adegan ini berlangsung dan
AYu merasa dinding vaginannya semakin berdenyut. Ia merasa lubangnya
terasa penuh dan rasa gatal menghampiri dirnya.
Rasa gatal di vagina Ayu semakin terasa, ia merasa tubuh
dan wajahnya panas. Keringat makin membasahi tubuhnya dan payudaranya
menjadi kencang karena terangsang. Desahaan gadis ini semakin besar,
lalu saat orgasme pun datang. Ayu merasa vagina berkedut semakin kencang
dan akhirnya sang gadis cantik ini berteriak.
“ aaaaaahhh paaaakkk sampeeee” gadis ini melengkungkan tubuhnya ke atas,
matanya tinggal tampak putihnya saja dan mulutnya terbuka. Wajah
cantiknya memerah.
“Crottt…crooottt…crott.” Orgasme kedua Ayu kali ini begitu dahsyat.
Cairannya menyembur dengan amat banyak. Membuat tubuhnya lemas.
Pak Tanba merasa penisnya dipijat semakin kuat oleh dinding vagina Ayu,
saat gadis itu orgasme. Kepala penis lelaki Ambon ini terasa gatal dan
dipijat oleh tenaga konstraksi dahsyat . Pak Tanba merasa orgasmenya
akan semakin datang. Maka ia mempercepat genjotnya lalu menanamkan
batang penis hitam besarnya sedalam mungkin ke lubang vagina Ayu.
Urat-urat penis pria ini berkedut-kedut dan akhirnya pria paruh baya ini
menggeram bak kesurupan. Otot-otot tubuh dan pahanya menegang. Mata
lelaki paruh baya ini terpejam dan kepalanya mendongak ke atas. Tubuh
hitamnya terlihat mengkilat dan terlihat amat jantan.
“Crot..crot…crott..croot..Argggh..arghhhh” beberapa kali air mani
pembuat bayi milik Pak Tanba muncrat membasahi rahim dan lubang vagina
Ayu.
Terlihat Pak Tanba lima kali mengejan dan menembakkan mati kentalnya ke
dinding rahim Ayu. Ayu merasa vaginanya disiram oleh cairan kental dan
lengket milik Pak Tanba. Vaginanya terasa hangat oleh cairan pembuat
bayi Pak Tanba. Air mani Pak Tanba memang amat banyak sehingga mengalir
keluar dari lubang vagina Ayu yang masih disumpal oleh batang penis
sopir taksi Ambon itu. Pak Tanba tergulai lemas di atas tubuh Ayu.
Keringat lelaki bertubuh hitam tambun itu bercampur dengan keringat
wangi Ayu. Keduanya masih meresapi kenikmatan orgasme yang baru saja
mereka dapatkan. Air mani Pak Tanba yang bercampur dengan cairan orgasme
Ayu, mengalir menetes ke paha dan pantat Ayu. Ayu merasa pahanya pegal
karena terus dikangkangkan oleh Pak Tanba. Setelah merasa puas, Pak
Tanba lalu mancabut batang penisnya dari vagina Ayu. Batang hitam besar
itu terlihat mengkilat karena percampuran air mani dan cairan orgasme
Ayu. Air mani Pak Tanba yang banyak juga mengalir dari lubang vagina Ayu
dan membasahi sofa tempat mereka bergumul. Suasana sepi. Tak lagi
terdengar desahan. Hanya terdengar suara burung jalak dari halaman
belakang rumah Ayu, suara TV dan dengungan AC di ruang tamu. Setelah
kedua pulih, Pak Tanba bangkit dan mencium kening Ayu dengan sayang. Ayu
pun tersenyum dan balik mencium pipi hitam Pak Tanba. Keduanya masih
terguling lemas di Sofa ruang tamu Ayu. Lalu keduanya tersenyum puas.
Pak Tanba yang staminanya memang kuat lalu bangkit dan mengangkat tubuh
Ayu. Sepasang tangan kekar hitam milik Pak Tanba membopong tubuh kekasih
mudanya itu. Ayu melingkarkan tangannya ke leher kokoh Pak Tanba.
“Mandi yok” kata Pak Tanba.
Ayu tersenyum penuh arti. Lalu tubuh hitam perkasa Pak TAnba membopong
gadis pemuas nafsunya ke kamar mandi di dalam kamar Ayu. Keduanya mandi
dan saling menyabuni. Vagina Ayu yang semula perih, berangsur sembuh
oleh pengaruh Cincin Perawan. Sambil mandi keduanya menyempatkan diri
berciuman. Usai mandi keduanya menuju kamar tidur dan tertidur
berpelukan tanpa busana. Mereka tertidur bak penganten baru, hingga
pukul 12:00 siang. Ketika bangun, Pak Tanba dan Ayu yang merasa lapar
lalu memesan makanan delivery service. Keduanya makan di ruang tamu
sambil saling bersuapan, bersenda gurau layaknya penganten baru.
Pukul 13:15 Pak Tanba mencoba pamit kepada Ayu untuk pulang. Ayu tampak keberatan karena masih kangen dengan Pak Tanba.
“Ayolah sayang..Bapak kan harus narik taksi.”
Ayu pun kemudian mengalah dan Pak Tanba pun keluar menarik taksi hingga
pukul 19:00 malam. Selepasnya Pak Tanba memutuskan untuk pulang ke
rumah, menyambangi anak istrinya. Istri dan anak Pak Tanba sama sekali
tidak curiga atas kelakuan Pak Tanba. Pria Ambon hitam besar itu pun
awalnya ingin menghabiskan malam minggu di rumah. Namun bayangannya atas
persetubuhan dengan Ayu tidak bisa dilupakan Pak Tanba. Ditambah sms
sayang dari Ayu yang muncul di hapenya, membuat pria 48 tahun ini
semakin gelisah. Ia pun lalu memutuskan keluar, mengenakan jaket dan
membawa motor bututnya.
“Mau kemana lagi pak?” tanya sang istri.
“ Aku kelupaan mengambil sesuatu yangketinggalan di luar kota bu?” jawab Pak tanba sekenanya.
“ Pukul 9 malam gini? Apa tidak lebih baik besok pagi saja?” cegah istrinya.
“ Nggak bisa buk. Barang ini dibutuhkan sekali. Barusan pelanggan menelpon” Pak Tanba berbohong.
Pak Tanba lalu memicu motornya, kemana lagi kalau bukan ke rumah Ayu,
kekasih mudanya. Pria paruh baya perkasa ini begitu ketagihan dengan
Ayu. Sang istri sebenarnya berfirasat kurang baik, tetapi tidak bisa
mencegah suaminya. Sementara Ayu yang sudah siap-siap tidur, tiba-tiba
menerima telpon dari Pak Tanba. Dengan girang Ayu mengangaktnya.
“ Saya di depan sayang, “ ujar Pak tanba mesra di balik telpon.
Ayu yang juga membutuhkang kejantanan Pak tanba bergegas membuka gerbang
dan menyuruh Pak Tanba masuk. Sesampainya di rumah, Ayu yang girang
langsung menghambur ke arah Pak Tanba. Tubuhnya menggelendot manja dan
dibopong oleh sopir taksi Ambon itu. Mereka berciuman hangat penuh
nafsu.
“ Aku hampir saja tidur sendirian pak. AKu kira bapak pulang ke rumah istri” ujar Ayu manja.
Pak Tanba tersenyum. Sembari tangan kerkarnya membopong Ayu, ia menjawab.
“ tadinya gitu. Tapi pas terima sms dari Ayu, bapak kangen berat sama Ayu” ujar Pak tanba sambil tersenyum.
“ Ah gombaal” Ayu merajuk manja.
Pak Tanba hanya tersenyum lalu keduanya kembali berciuman hangat di
ruang tamu. Pak Tanba lalu membopong tubuh Ayu ke tempat tidur di
kamarnya. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk telanjang bulat dan
saling mencumbu. Kamar yang awalnya sunyi, kini dipenuhi oleh desahan
nikmat dari insan terpaut umur jauh yang sedang dimabuk asmara itu. Lalu
terlihat pemandangan erotis saat tubuh hitam besar perkasa milik Pak
Tanba menindih tubuh seksi putih Ayu. Kaki Ayu terlihat mengangkang dan
vaginanya tersumbat penis besar hitam Pak Tanba.
Keduanya telah basah oleh keringat dan mendesah penuh kenikmatan. Pak Tanba yang sebelum ke rumah Ayu tadi meminum jamu kuat, terlihat amat perkasa malam itu. Tubuh besar hitam tambunya tampak memompa vagina Ayu. Otot-otot tubuh dan pantat Pak Tanba yang perkasa, terlihat maju mundur memompa batang penisnya ke vagina yang dirasakan pak tanba masih amat sempit. Ayu sudah dua kali orgasme, tapi Pak Tanba masih terlihat perkasa. Ayu kemudian mengusulkan gaya woman on top, yang belum pernah dicoba oleh Pak Tanba. Sopir taksi Ambon itu lalu terlentang di tempat tidur. Penis besar hitamnya tampak masih gagah mengacung, mengkilat karena cairan orgasme Ayu. Ayu lalu menduduki Pak Tanba dan membimbing penis lelaki paruh baya jantan ini memasuki lubang vaginannya. Keduanya melenguh nikmat, saat kepala penis besar hitam Pak Tanba memasuki lubang senggama Ayu. Ayu kemudian mengambil alih posisi yang mengatur Pak Tanba. Penis besar hitam itu kini amblas sepenuhnya di lubag vagina Ayu. Pak Tanba amat terangsang oleh gaya ini. Ia terlentang menikmati penis besarnya dipijat oleh vagina Ayu. Ayu pun kadang memutar vaginanya yang membuat Pak Tanba segera mendapat orgasme. Otot-otot tubuh jantannya menegang dan ia memuncratkan air mani kental derasnya ke vagina Ayu. Ayu yang juga orgasme bersamaan, meresapi dan berteriak penuh nafsu. Keduanya lalu terbaring lemas, lalu tidur sambil berpelukan. Tinggal menunggu jam saja bagi keduanya untuk terus memicu birahi.
########################
Hubungan antara Ayu Dyah dan Pak Tanba semakin akrab. Sejak pertama kali
Ayu menyerahkan keperawanannya pada Jumat malam kepada pria Ambon paruh
baya itu, terhitung sudah empat kali keduanya melakukan hubungan intim
layaknya sepasang suami istri. Setiap kali melakukan hubungan intim,
keduanya selalu mencapai kepuasan maksimal. Ayu yang belum pernah
berhubungan seks sebelumnya, seolah mendapatkan guru yang tepat. Pak
Tanba yang sudah berusia 48 tahun selalu memperlakukannya dengan lembut
dan penuh kasih sayang. Ayu merasa sopir taksi itu bisa membimbingnya
dan memberikan kepuasan seksual. Ayu pun merasa nyaman dengan Pak Tanba.
Ia merasa terlindungi. Sementara Pak Tanba pun merasa dirinya menjadi
pria paling beruntung sedunia. Lelaki bertubuh tambun tinggi besar hitam
itu mendapatkan seorang gadis perawan yang amat cantik. Pak Tanba yang
sudah lama tidak merasakan hubungan seksual itu pun mampu memuntahkan
air maninya yang selama ini tertahan ke liang vagina Ayu yang sempit.
Pak Tanba merasa amat terpuaskan setiap bersenggama dengan Ayu. Ia
merasa Ayu bukan sekadar gadis yang menjadi pelampiasan seksualnya,
dalam hatinya ia sudah menyayangi gadis muda itu seperti istrinya
sendiri. Kedua manusia berbeda kelas dan strata ekonomi itu terakhir
kali bertemu pada hari Minggu, tepat satu hari setelah pertama kali
mereka berhubungan intim. Tentu saja mereka menghabiskan pertemuan
dengan bertukar peluh dan kelamin. Pada malam Minggu Pak Tanba
memberikan kepuasan batin kepada Ayu. Hanya dijedakan oleh tidur malam
dan sarapan, keduanya kembali mengayuh birahi pada pagi harinya. Penis
hitam besar Pak Tanba kembali menyodok vagina Ayu yang sempit. Ayu yang
mulai terbiasa pun tidak kalah memberikan pelayanan birahi kepada
kekasih tuanya itu. Meskipun berkaki pincang dan sudah berusia lanjut,
Pak Tanba memang memiliki stamina dan alat kelamin luar biasa. Beberapa
kali Ayu terlihat kewalahan melayani Pak Tanba. Sopir taksi asal Ambon
ini pun merasa amat bahagia bisa memuaskan kekasih mudanya itu. Beberapa
kali Pak Tanba memuntahkan air maninya yang kental di vagina Ayu.,
sehingga ia pun merasa kepuasan batin. Kedua manusia berlawanan jenis
ini pun terpaksa harus berpisah sementara. Pak Tanba yang sudah beristri
dan memiliki satu cucu ini merasa dirinya tidak bisa terus bersama
dengan Ayu. BIar bagaimanapun ia sebagai kepala keluarga harus
bertanggung jawab, mencari nafkah dan tak ingin istri dan anaknya tahu.
Pertimbangan lainnya, Pak Tanba merasa tidak ingin terlampau merusak
masa depan Ayu yang masih amat muda. Ayu pun mengerti posisi Pak Tanba.
Keduanya lalu berjanji untuk mengatur pertemuan, agar tidak terlalu
sering bertemu.
Senin, Selasa,dan Rabu, Pak Tanba dan Ayu bertekad untuk tidak bertemu.
Meski terdapat rasa kangen ingin berjumpa dan melampiaskan gairah,
mereka berusaha untuk menepati janji masing-masing.
Ayu percaya Pak Tanba yang memiliki rasa tanggungjawab itu,
tidak akan menyeleweng dengan perempuan lain. Di sisi lain, Pak Tanba
juga percaya bahwa gadis yang telah mengorbankan keperawanannya itu
tidak akan mencoba dengan lelaki lain. Mereka hanya menjalin hubungan
dengan sms ataupun telepon. Semenjak pertemuannya dengan Ayu, Pak Tanba
memang merasa kembali muda. Ia lebih bersemangat, ceria dan getol
mencari uang. Meski ia tahu bahwa tak mungkin menikahi Ayu yang masih
muda dan kaya, tapi lelaki hitam besar ini tidak mau dianggap
memanfaatkan kekayaan Ayu. Namun di sisi lain, Pak Tanba merasa amat
bersalah dengan anak istrinya. Ia yang selama ini setia, merasa berdosa
telah berselingkuh. Meski Pak Tanba berusaha bersikap wajar, namun
perubahan sikapnya ini sudah menarik kecurigaan istrinya yang telah
menemaninya selama 28 tahun. Dan pada malam Kamis itu, Pak Tanba pun
terpergok. Malam itu sekitar pukul 21:30, Pak Tanba pulang ke rumah
setelah menarik taksi seharian. Suasana rumahnya sepi. Anak bungsunya
yang perempuan dan telah berusia 25 tahun, menginap di rumah kakak
sulungnya yang telah memiliki anak. Pak Tanba yang merasa lelah pun
segera ke ruang makan untuk mengambil minum, lalu duduk di ruang tengah
di rumahnya yang sempit. Dalam hati ia merindukan Ayu. Rasa rindunya
membuat lelaki paruh baya itu memutuskan untuk menelpon gadis muda itu.
Pak Tanba beruntung. Baru saja ia ingin menelpon Ayu, sang gadis telah
menelponnya duluan. Lelaki Ambon ini pun menyambutnya dengan riang.
Obrolan yang awalnya ringan, lalu berujung pada pembicaraan cabul.
Obrolan yang berlanjut pada kenangan saat mereka berhubungan intim,
membuat Pak Tanba yang sudah 3 hari tidak ngentot dengan kekasih mudanya
itu membuat Pak Tanba terangsang. Ia lalu menarik risleting celananya,
lalu mengeluarkan penis besar hitam 19 cm-nya dari celana dalamnya.
Sambil menelpon, Pak Tanba mengocok batang kejantanannya. Suara Ayu yang
seksi dan mendesah membuat Pak Tanba amat terangsang. Seiring
kocokannya, penis besar hitam dan berurat miliknya menjadi tegang
maksimal. Kepala kemaluannya yang besar berwarna kecoklatan pun
membesar. 20 menit mereka saling menelpon, Pak Tanba lalu mengerang. Air
maninya muncrat berkali-kali . Di ujung telepon Ayu pun yang melakukan
onani dengan menggesek vaginanya mencapai orgasme yang sama. Keduanya
terengah-engah setelah menuntaskan rasa kangen dan birahi melalui
phone-sex itu.
“ Pak, Ayu kangen sama bapak, “ ujar suara manja Ayu di balik telpon.
“ Sama Ayu. Bapak juga kangen ingin tidur dengan Ayu lagi, “ jawab Pak Tanba sambil mengeluarkan bunyi kecupan.
Percakapan terputus dan Pak Tanba meletakkan ponsel tuanya.
Ia menerawang, meresapi kepuasanya setelah beronani sambil mendengarkan
suara Ayu. Ia membayangkan betapa nikmatnya bila ia mengluarkan air
maninya tadi ke lubang vagina sempit Ayu. Penis hitam besar Pak Tanba
kini mulai melemas, meski ukurannya masih perkasa. Pak Tanba lalu
mengelap air mani kental yang membasahi tangan dan batang pelernya
dengan tisu. Pak Tanba tidak menyadari bahwa sedari tadi kelakuannya
bertelepon dan beronani dilihat oleh seorang wanita bertubuh gemuk
berkulit hitam. Wanita bertampang Jawa dan ndeso itu adalah istri Pak
Tanba, Bu Wati. Meski telah berusia 51 tahun, 3 tahun lebih tua dari Pak
Tanba, Bu Wati masih memperlihatkan sisa-sisa wajah manis wanita
Jawanya. Melihat suami yang telah menemaninya selama 28 tahun itu
bertelepon mesra, bahkan sambil mengocok penis dengan ditemani suara
wanita, sebenarnya membuat hati wanita tua ini pedih. Kecurigaannya
beberapa hari ini ternyata terbukti. Bahwa suaminya yang selama ini
tidak pernah berbuat neko-neko memiliki wanita idaman lain. Bahkan ia
yakin, suaminya itu telah bersenggama dengan wanita tersebut. Bu Wati
sebenarnya sangat sadar bahwa Pak Tanba masih aktif secara seksual.
Keadaan tubuhnya yang sudah menopause dan tua, membuat Bu Wati sudah
tidak bisa memberikan nafkah batin kepada suaminya itu. Ditambah Bu Wati
yang mengidap penyakit diabetes, tidak memungkinkannya memuaskan penis
besar suaminya. Sudah lebih 6 tahun Bu Wati dan Pak Tanba tidak
berhubungan intim. Bu Wati sebenarnya beberapa kali menyarankan Pak
Tanba beristri lagi. Namun Pak Tanba menolak ide itu. Alasan finansial
dan malu terhadap anak, selalu menjadi alasan Pak Tanba. Bu Wati
sebenarnya percaya sepenuhnya dengan Pak Tanba. Meski bertampang bak
preman, suaminya itu memiliki hati yang baik dan bertanggung jawab.
Namun, perubahan sikap Pak Tanba yang 3 hari ini bak remaja yang jatuh
cinta, membuat Bu Wati sadar bahwa suaminya telah menemukan wanita lain.
Kenyataan bahwa Bu Wati memergoki Pak Tanba beronani sembari menelpon
wanita, membuat Bu Wati yakin. Bu Wati hanya penasaran, siapa wanita
yang sudah bisa membuat prinsip Pak Tanba yang tidak ingin mendua,
berubah.
Pak Tanba masih menerawang sambil membelai penis besar hitamnya dan membersihkan air mani, saat Bu Wati bertanya.
“Sudah puas, pak? “ Tanya Bu Wati dengan nada penuh selidik dan suara dingin.
Pak Tanba kaget dan terperanjat. Pandangannya segara tertuju kepada
istrinya. Lelaki botak hitam besar itu merasa amat cemas dan berdebar.
Sudah terlambat baginya. Tubuh lelaki paruh baya itu berkeringat saat
mengetahui istrinya memergoki ia beronani sambil menelpon Ayu. Buru-buru
ia menyingkirkan gumpalan tisu bekas air mani dan memasukkan penisnya
kembali ke celana dalam, serta menutup risleting celananya. Pak Tanba
buru-buru membenarkan posisi duduknya.
“Kenapa harus ditutup toh pak? Aku sudah puas ngeliat dan ngerasain
penis bapak selama 28 tahun, “ ujar Bu Wati masih dalam nada selidik dan
dingin, ada rasa sakit hati di dalam nada suaranya.
Bu Wati lalu menghampiri Pak Tanba ke sofa butut tempat lelaki itu
duduk. Pak Tanba bertambah gugup dan merasa bersalah. Suara dan gerak
tubuhnya mendadak bingung.
“aeeeh.. umm . sudah di rumah toh bu?” tanya Pak Tanba basa-basi.
Kegugupan akibat terpergok dan rasa bersalah amat jelas terlihat dari
sikapnya. Pak Tanba memang sebenarnya pria yang baik.
“Sudah dari tadi pak. Ibu tau bapak datang, bapak ngambil minuman, terus
bapak nerima telpon dari cewek dan bapak ngocok sambil puas. Bapak
terlalu asyik nyampe ndak sadar kalo Ibu ngeliat dari tadi, “ ujar Bu
Wati dalam bahasa Jawa medok. Suaranya tetap tenang, meski terdengar
kepedihan.
Pak Tanba hanya menunduk. Ia tidak berani berkata apa-apa.
“Siapa wanita itu pak? Ketemu di mana? Jelasin aja Pak. Jangan bohong, “
tanya Bu Wati yang sambil menahan tangis, Air matanya mulai menetes.
“Bapak kan sudah tahu saya sudah rela bapak nikah lagi. Ibu sadar pak,
kalo ibu sudah ndak sanggup melayani bapak, sedangkan bapak itu masih
kuat. Tapi kenapa mesti di belakang Ibu pak?” cecar Bu Tanba. Air
matanya sudah menetes.
Pak Tanba melihat istrinya dengan merasa kasihan dan bersalah. Ia sudah
mengecewakan istrinya yang sudah lama berjuang bersamanya. Dengan suara
gugup dan bergetar, pria tua perkasa ini meminta maaf.
“Maaf buu.. Bapak khilaf. Bapak memang salah, “ ujar Pak Tanba kepada istrinya yang sudah terisak.
Bu Wati menyeka air matanya. Wanita tua gendut itu menatap suaminya yang
terlihat bingung. Dalam hati Bu Wati tahu, Pak Tanba merasa bersalah.
Pengalamannya menemani lelaki Ambon ini selama 28 tahun, membuat Bu Wati
mengenal pribadi suaminya.
“Sudah berapa lama pak? Berapa hari? Ibu tahu ini baru terjadi,” tanya Bu Wati sambil terisak.
Pak Tanba menarik nafas berat. Mau tidak mau ia harus bercerita kepada istrinya tentang kejadian yang sebenarnya.
“Baru dari hari Jumat malam kemarin, Bu. Baru 6 hari. Bapak pun baru
kenal dia hari Senin minggu lalu, ‘ jawab Pak tanba dengan suara
bergetar.
“Baru Jumat malam kemarin? Baru kenal Senin minggu lalu? Maksdunya apa
Pak? Bapak sudah tidur dengannya? Umurnya berapa pak? ‘ Cecar Bu Wati
sambil menahan isak.
Dengan suara bergetar menahan malu dan bersalah, Pak Tanba menjawab.
“Dia masih muda bu. Baru 22 tahun. Bapak kenal dia Senin minggu lalu.
Dia penumpang bapak. Bapak tidur dengannya Jumat Malam lalu. Dannn.. ia
masih perawan waktu pertama kali bapak gauli, “ jelas Pak Tanba dengan
terbata-bata. Ia melirik wajah Bu Wati, ingin melihat reaksinya.
Bu Wati merasa kaget. Awalnya Bu Wati merasa bahwa wanita yang menjadi
selingkuhan suaminya itu adalah seorang wanita nakal atau janda berumur
30-an. Mendengar suaminya berselingkuh dengan seorang gadis lebih muda
dari anak bungsunya dan masih perawan, membuat Bu Wati kaget. Wanita ini
tidak menyangka. Ia memandangi suaminya. Tapi raut muka dan sikap tubuh
suaminya tidak memperlihatkan bahwa ia berbohong. Dalam hatinya Bu Wati
makin penasaran. Suaminya bukan tipe pria yang bisa mendapatkan gadis
muda perawan. Suaminya itu bertubuh hitam, gendut, berwajah relative
tidak sedap dipandang. Apalagi kaki kanannya pincang dan ia bukan pria
banyak duit. Meski Pak Tanba memiliki alat kelamin dan stamina seks yang
membuat wanita bisa bertekuk lutut, tapi sulit mempercayai bahwa ada
gadis perawan yang mau disetubuhi oleh suaminya.
“Bapak memperkosa gadis itu?” Suara Bu Wati meninggi.
“Bukan bu..bukan. Sumpah Bapak juga masih bingung kenapa gadis ini mau
dengan bapak. Awalnya Bapak juga nganterin dia pake taksi. Nggak ada
maksud apa-apa. Waktu pertama ia bilang suka ke bapak pun, bapak nggak
percaya. Bapak sudah bilang bapak bukan pria yang tepat untuknya, tapi
ia percaya dengan bapak. Lama-lama bapak khilaf bu. Jujur bapak awalnya
juga suka dengan dia, tapi bapak sadar ia terlalu muda, terlalu kaya
untuk bapak. Sekarang ia sudah tidak perawan lagi gara-gara bapak, “
ujar Pak Tanba panjang lebar.
Bu Wati masih tercenung. Meski ia percaya perkataan suaminya, namun
cerita itu tetaplah luar biasa. Seorang gadis perawan cantik, masih muda
dan kaya, mau menyerahkan tubuhnya tanpa meminta apapun, dengan
suaminya yang tua, hitam dan jelek ini. Bu Wati mencoba tenang. Ia ingin
mendengar lebih jauh.
“Ceritakan dari awal pak, “
Pak Tanba menghela nafas. Ia bingung mau menjelaskan dari mana. Setalah
tahu, lelaki Ambon ini lalu bercerita tentang awal mula pertemuannya
dengan Ayu. Siapa Ayu dan kegiatannya mengantar sang gadis sebagai sopir
taksi langganan. Pak Tanba juga bercerita tentang Ayu yang selalu
membayari jatah setoran taksinya, meski sudah dicegah oleh Pak Tanba.
Lalu lelaki besar hitam ini juga bercerita tentang mulai dekatnya ia
dengan Ayu. Saat di taman dan saat Ayu menyerahkan keperawanan kepada
dirinya.
Ada rasa bangga yang tersirat dari suara Pak Tanba, saat bercerita di
bagian Ayu yang rela menyerahkan keperawanannya. Biar bagaimanapun, Pak
Tanba merasa amat sangat beruntung. Di sisi lain, meski sedih, tersembul
rasa bangga di hati Bu Wati saat tahu suaminya digilai oleh seorang
gadis muda cantik kaya raya. Bahwa Pak Tanba masih berusaha bertanggung
jawab dan mengingatkan sang gadis, meski akhirnya suaminya meniduri
gadis itu. Pria normal mana yang akan kuat imannya dan mampu menolak
ajakan tidur seorang gadis cantik yang masih muda dan perawan? Bu Wati
juga bahagia, karena tahu bahwa suaminya berselingkuh dengan gadis
baik-baik. Perasaan campur aduk itu membuat Bu Wati bingung dan
gelisah.Melihat reaksi istrinya usai mendengar ceritanya, Pak Tanba
berkata.
“Maafkan bapak, bu. Jujur bapak tidak kuasa menahan hasrat. Ayu itu
gadis yang amat baik. Ia tidak meminta bapak menikahinya. Bapak juga
tahu bapak nggak pantas dengannya. Dan jujur bapak merasa sayang dengan
Ayu. Bapak nggak bisa ninggali Ayu, setelah bapak menghisap madunya.
Tapi, bapak juga nggak bisa ninggalin Ibu dan anak-anak,” Pak Tanba
berkata dengan suara beratnya. Ada kebingungan di nadanya.Bu Wati
menghela nafas panjang. Ia sudah mengambil satu keputusan.
“Ibu sekarang sudah tahu penjelasannya. Jujur ibu bingung, tapi ibu
kagum dengan gadis itu. Ia bisa menerima bapak apa adanya. Ibu juga
kagum dengan bapak, meski bapak salah, bapak ngakuin dan mau tanggung
jawab. Ibu mau bertemu dan ngobrol dengan Ayu besok,” jelas BU Wati
tegas.
Pak Tanba kaget. Ia tidak menyangka bahwa keadaannya seperti ini. Dari
tadi lelaki tua Ambon ini menyangka bahwa istrinya akan marah dan
menyuruhnya meninggalkan Ayu. Keadaan akan lebih mudah.Tapi permintaan
istrinya membuat ia bingung.
“Bu..buat apa bu?”
“Ibu Cuma pengen ngeliat non Ayu. Ibu pengen ngobrol dan kenal lebih
dekat. Ibu sadar bahwa posisi kita serba salah. Ibu juga sadar bahwa
sudah terlanjur. Tapi sebagai istri bapak, Ibu pengen memastikan bahwa
Ayu adalah gadis yang tepat untuk bapak. Kalo benar, ibu rela bapak
terus sama Ayu,” jelas Bu Wati tegas.
Pak Tanba tambah bingung. Ia tidak menyangka bahwa istrinya bisa
memutuskan hal yang seperti ini. Ada perasaan senang, takut dan perasaan
lain yang bercampur aduk.
“ Maksud Ibu? Ibu ingin cerai atau bagaimana? Bapak nggak mau ini terjadi.,” tanya lelaki Ambon ini.
“ Nggak pak. Ibu nggak ingin cerai. Kasian anak-anak juga. Ibu hanya mau
bila Bapak terus sama Ayu, bapak nggak sembunyi-sembunyi lagi. Besok
bawa Ayu ke sini pak. Ibu mau ngobrol dan bertemu.” ujar Bu wati lalu
berlalu masuk ke kamarnya.
Pak Tanba terdiam. Lelaki botak bertubuh hitam besar ini merasa serba
salah. Di satu sisi ia lega bahwa istrinya amat pengertian. Di sisi
lain, ia tak ingin Ayu kemudian marah karena ia menceritakannya hubungan
mereka dengan istrinya. Pak Tanba masih ingin bersama dengan gadis muda
itu dan terus merasakan kehangatan tubuhnya. Pak Tanba menarik nafas
berat. Pilihan ini membuanta tak bisa tidur. Malam pun terasa amat
panjang baginya.
Keesokan hari, Pak Tanba memberanikan diri menelopon Ayu.
Ayu yang memang menantikan telepon kekasih tuanya itu, gembira
menerimanya. Namun, Ayu merasa heran saat mendengar suara Pak Tanba yang
amat serius dan mengatakan ingin bertemu. Dalam hati gadis muda ini
tahu, ada suatu masalah yang menimpa pejantan tuanya itu. Mereka lalu
sepakat bertemu di kampus. Sore sekitar pukul 16:30, Pak Tanba menjemput
Ayu menggunakan taksinya. Ayu yang kangen dengan Pak Tanba mencium
kekasih tuanya itu dengan gembira. Meski dibalas dengan hangat, tapi Ayu
heran bahwa lelaki Ambon itu teramat serius.
“ Ada apa pak? Kok kayak ada masalah?” tanya Ayu.
Pak Tanba menghela nafas berat.
“Ayu, bapak pengen ngobrol panjang dengan Ayu, “ ujar lelaki hitam besar itu.
Ayu mengangguk, meski heran. Mereka lalu menuju sebuah rumah makan yang
sudah menjadi langganan Ayu. Setelah memesan makanan, Pak Tanba yang
sudah tidak tahan lagi, lalu menceritakan kejadian saat ia kepergok
bertelpon seks dengan gadis muda itu. Ayu sempat kaget dan terkejut.
Namun, gadis cantik keturnan Indo ini memberikan kesempatan Pak Tanba
untuk bercerita lebih lanjut. Pak Tanba pun bercerita panjang lebar,
termasuk keinginan istrinya untuk bertmu dengan Ayu.
“Begitulah Yu. Bapak sudah menceritakan segalanya. Dari awal bapak sudah
cerita ke Ayu kalau bapak ini sudah punya anak istri. Bahkan sudah
punya cucu. Bapak ini bukan pria yang pantas untuk Ayu. Bapak senang Ayu
sudah percaya memberikan keperawanan Ayu ke Bapak. Bapak juga ingin
terus bersama Ayu. Sekarang terserah Ayu gimana, “ ujar lelaki tua itu
pasrah.
Ayu termenung. Semula Ayu memang hanya ingin menjalankan ritual Cincin
Perawan yang telah membuatnya berhubungan intim dengan Pak Tanba. Ia pun
tidak ada keinginan untuk menikah dengan sopir taksi 48 tahun ini. Ia
masih muda, cantik, masa depannya cerah. Ia juga tak yakin, bila orang
tuanya yang tinggal di Bali mengizinkan ia berhubungan dengan pria yang
lebih pantas jadi ayahnya ini. Namun Ayu harus mengakui bahwa Pak Tanba
telah menempati ruang khusus di hatinya. Selain puas dengan penis hitam
besar lelaki ini, Ayu pun merasa bahwa Pak Tanba adalah pria bertanggung
jawab. Ia pun ingin terus merengguk birahi dengan pria ini, entah
sampai kapan. Tidak masalah bahwa Pak Tanba adalah lelaki tua, berkaki
pincang, hitam dan berwajah seram. Ayu pun tersenyum. Ia meraih tangan
kekar hitam Pak Tanba. Lelaki tua ini ini menatap wajah kekasih mudanya
dengan hati yang berdegub kencang. Pak Tanba sudah siap bila ia harus
melupakan kenangan seksual indah dengan gadis ini.
“ Pak, sekarang kita makan dulu. Terus kita ke rumah bapak ya,” Jawab Ayu dengan tersenyum.
Pak Tanba merasa kaget, senang dan berbagai perasaan lainnya.
“ Be…bee..nar Ayu? Pak Tanba memastikan. Ia masih tidak percaya.
“ Benar pak. Ayu pun tidak ingin berpisah dengan bapak,” tegas Ayu.
Ingin rasanya Pak Tanba mencium Ayu saat ini. Ia begitu bahagia,
mengetahui gadis cantik ini begitu baik ingin menemaninya. Perasaan Pak
Tanba saat ini sama saat Ayu pertama kali mengajaknya berhubungan intim.
Keduanya lalu makan dan setelahnya mereka menuju rumah Pak Tanba.
Sepanjang jalan mereka hanya diam, sibuk berpikir
masing-masing. Keduanya lalu tiba di rumah Pak Tanba tepat pukul 20:05.
Istri Pak Tanba, Bu Wati, telah menunggu di depan pintu. Anak bungsu
mereka masih menginap di rumah kakaknya, jadi di rumah hanya ada Bu
Wati. Melihat sosok perempuan tua gendut berkulit sawo matang sedang
menunggu di depan pintu, Ayu langsung tahu bahwa itulah Bu Wati, istri
Pak Tanba. Ayu merasa gugup dan gelisah. Biar bagaimanapun ia akan
bertemu dengan istri sah lelaki tua yang telah berselingkuh dengannya.
“ Itu Bu Wati ya pak?” Tanya Ayu gugup.
Pak Tanba mengangguk. Matanya menatap gadis muda di depannya. Ia menggenggam tangan Ayu, lalu mencium mulutnya lembut.
Keduanya lalu turun dari taksi dan melangkah masuk pintu rumah kecil itu.
Rumah Pak Tanba amatlah sederhana bila dibandingkan dengan rumah Ayu.
Ruang tamunya kecil. Hanya ada sofa butut panjang, karpet, televisi dua
puluh inch keluaran lama, dan bantal-bantal untuk tidur.
Dari ruang tamu sudah terlihat dua sekat kamar. Lalu terlihat ruang
makan dan dapur yang tertutup tirai. Tidak ada perabotan mewah. Ruang
tamu semakin sempit karena ada motor butut Pak Tanba yang terparkir.
‘Permisi” Ujar Ayu mencoba sopan. Pak Tanba menggandeng tangan Ayu supaya masuk ruang tamu.
“Silahkan masuk” Ujar Bu Wati dengan ramah. Tidak terdengar kemarahan. Keadaan ini membuat Ayu sedikit tenang
Ketiganya lalu duduk di atas karpet tua tipis di ruang tamu. TV menyala menyiarkan acara sinetron.
Pak Tanba duduk di dekat pintu keluar, Ayu di sampingnya. Bu Wati di
depan mereka, seolah menginterogasi. Sejenak suasana menjadi canggung
dan kaku. Mereka bertiga hanya diam. Hingga akhirnya Pak Tanba
memberanikan diri memperkenalkan Ayu ke istrinya.
“ Bu perkenalkan ini Ayu. Ayu ini istriku, Wati” ujar Pak Tanba.
Ayu dan BU Wati berjabatan tangan. Mereka saling berpandangan dan memperhatikan
Bu Wati melihat Ayu dari ujung rambut ke ujung kaki. Ia tidak menyangka
bahwa suaminya amat beruntung merenggut keperawanan gadis muda yang amat
cantik ini. Bu Wati selama ini hanya melihat sosok secantik Ayu, lewat
artis-artis Ibukota di layar kaca. Dalam hati Bu Wati makin penasaran
apa yang menyebabkan Ayu mau saja tidur dengan suaminya. Sebaliknya, Ayu
melihat sosok Bu Wati seperti ibu-ibu pada umumnya. Berwajah bundar,
sudah keriput di wajahnya. Rambutnya yang panjang sudah memutih
sebagian. Tubuhnya gendut dan Bu Wati memiliki raut keramahan yang
membuat Ayu tenang.
“ Oh ini toh namanya Nak Ayu,” ujar Bu Wati lembut.
Ayu hanya tersenyum sambil menunduk. Ia melirik Pak Tanba, yang terlihat
canggung dan salah tingkah. Mereka bak dua remaja nakal yang akan
dihukum oleh Bu Guru.
“ Pak, Ibu ingin ngobrol berdua dengan Nak Ayu. Bapak nunggu di luar saja, “ pinta Bu Wati.
Ayu dan Pak Tanba cemas. Mereka berpandangan.
“Tenang saja Pak. Nak Ayu yang cantik ini nggak akan
diapa-apakan. Ibu hanya pengen ngobrol dengan sesama wanita saja, ‘
jelas Bu Wati.
Ayu pun mengangguk kepada Pak Tanba. Kekasih tuanya, sekaligus suami Bu
Wati ini pun kemudian berdiri dan keluar rumah. Lelaki tua ini amat
gugup. Ia kemudian berdiri di halaman, dan menyalakan rokok. Sementara
di dalam, istrinya dan gadis yang diselingkuhinya sedang bertemu, entah
akan membicarakan apa. Di ruang tamu, Bu Wati memulai pembicaraan.
“ Non mau minum apa?” Tanya Bu wati lembut.
Ayu masih gugup. Ia hanya tersenyum, menggeleng.
“ Nggak usah Bu. Tadi saya dengan Pak Tanda sudah makan”
BU Wati tersenyum. Ayu merasa wanita tua ini amatlah baik dan bijaksana.
Gadis muda ini kemudian merasa berdosa, telah membuat suaminya tidur
dengannya. Hanya karena nafsu birahi Cincin Perawan.
Bu wati mendekati Ayu. Tanpa diduga, wanita tua itu membelai rambut dan
wajah Ayu yang tampak bingung dan pucat. Bu Wati menatap wajah Ayu
dengan lama. Wanita tua ini lalu memgang dagu lancip Ayu, kemudian
melepasnya.
“ Nak Ayu ini sangat sangat cantik. Berkulit putih, baik, kaya. Ibu
ingin tanya, apa yang membuat Ayu rela melepas keperawanan kepada suami
ibu? Suami ibu itu udah tua, hitam, jelek, jalannya pincang. Sopir taksi
lagi. Ibu yakin, banyak pemuda3 ganteng kayak artis yang sama kayanya
dengan nak Ayu, yang rela mengejar-ngejar Nak Ayu. Ibu heran. Kenapa
Nak?” tanya Bu Wati dengan lembut.
Ayu terdiam. Ia menunduk tak berani memandan. Ia sebenarnya sedang
mencari jawaban yang tepat. Ayu tak mungkin bercerita mengenai Cincin
Perawan yang dimilikinya. Setelah menemukan jawaban, Ayu memberanikan
diri menatap Bu Wati dan menjawabnya dengan sopan.
“Saya juga bingung bu. Saya Cuma pernah berpacaran dua kali. Itu pun
nggak ngapa-ngapain. Tapi ketika ngeliat Pak Tanba, Ayu merasa amat
tertarik. Ada sesuatu dalam diri suami ibu yang membuat saya tertarik.
Pak tanba memang bukan tipe ideal gadis-gadis seumuran saya. Pada malam
setelah saya bertemu suami Ibu, saya mimpi bahwa Pak Tanba adalah pria
yang saya cari. Saya sendiri tahu Pak Tanba telah punya anak istri,
bahkan telah punya cucu. Saya tahu masa depan saya masih panjang, tapi
saya tidak bisa membohongi diri sendiri, bahwa saya amat tertarik dengan
Pak Tanba. Saya tidak minta dinikahi, saya hanya menemukan sosok
lelaki yang membuat saya nyaman, “ jelasnya panjang. Tentu saja ia
mengarangnya.
Bu Ayu tersenyum. Antara kagum, tidak percaya, dan bangga terhadap
suaminya yang telah bisa menaklukkan gadis amat cantik ini. Wanita tua
ini lalu memegang tangan Ayu.
“Ibu jarang ketemu sama gadis kayak Nak Ayu. Anak bungsu saya saja
mencari pria tampan kaya. Tapi Nak Ayu beda. Ibu hargai kejujuran Nak
Ayu,” ujar Bu Ayu lembut.
Ayu sama sekali tidak menduga reaksi Bu Ayu seperti ini.
Tadi dia siap menerima dampratan, makian dan hinaan Bu Wati karena telah
merebut suaminya. Dalam hati Ayu makin mengagumi Pak Tanba, yang memang
seorang lelaki hebat. Tak hanya soal seks dan ukuran kelamin, namun
juga mampu menjadi kepala keluarga yang baik. Bu Wati lalu bercerita
mengenai awal mulanya bertemu dengan Pak Tanba. Ayu dan Bu Wati lalu
mengobrol tentang sejarahnya bertemu dengan Pak Tanba, tentang dirinya
dan tentang anak-anaknya. Bahkan Bu Wati memperlihatkan foto
pernikahannya dengan Pak Tanba, Pak Tanba waktu muda, serta foto
anak-anaknya. Obrolan mereka bak obrolan seorang ibu dan anaknya. Dalam
hati Ayu merasa senang dengan Bu Wati. Bu Wati pun senang suaminya
mendapat gadis seperti Ayu. Bu Wati juga menjelaskan perilaku seks Pak
Tanba, yang ternyata memang lembut dan mampu membuat Bu Wati melayang.
Wanita tua ini juga menceritakan bagaimana sudah lebih 6 tahun mereka
tidak lagi berhubungan intim.
“Kini Ibu rela dan bahagia, suami Ibu bisa mendapat seorang wanita yang
tak hanya menjadi teman tidur, tapi juga amat baik seperti Nak Ayu.
Kalau misalnya bukan duluan bapaknya yang nidurin Nak Ayu, Ibu amat
yakin, anak lelaki ibu pun akan kepincut, “ ujar Bu Wati tersenyum
“Ah Bu Wati bisa aja, “ jawab Ayu malu.
“Nak Ayu, Ibu mau bertanya. Waktu pertama kali suami Ibu merawanin Nak
Ayu, apakah Nak Ayu kuat? Senjata Bapak kan gede dan panjang. Terus
Bapak kuat lagi. Nak Ayu nggak kewalahan? Ibu aja duluu waktu malam
pertama dengan bapak, sempat seminggu nggak bisa jalan, “ Bu Wati serius
bertanya.
Ayu mukanya memerah mendapatkan pertanyaan ini. Gadis muda ini lalu
teringat kembali saat pertama kali penis besar hitam Pak Tanba menjebol
keperawanannya. Ayu pun merasakan hal yang sama. Sakit menahan penis
besar hitam dan panjang milik Pak Tanba. Namun, Ayu tak mungkin
bercerita mengenai Cincin Perawan miliknya. Mengingat saat ia ngentot
dengan Pak Tanba, membuat Ayu terangsang.
“Jangan malu Nak Ayu. Ceritakan saja. Sudah berapa kali Nak Ayu bersenggama dengan Bapak?” tanya Bu Wati.
“Sudah 4 kali bu. Waktu pertama dengan Pak Tanba, memang sakit. Punya
bapak gede banget. Tapi, bapak itu telaten dan lembut. Dia bisa
membimbing Ayu. Habisnya Ayu juga sempet gak bisa jalan. Tapi Pak Tanba
bisa ngemong Ayu. Dari malam pertama, Ayu sama Bapak ngelakuin lagi
paginya. Terus Malam minggu dan Minggu Siangnya. Pak Tanba staminanya
kuat, “ jawab Ayu sambil tertunduk malu.
Bu Wati terkekeh. Ia suka dengan sikap lugu Ayu. Ia juga senang bahwa
suaminya telah belajar banyak dari pengalamannya. Meski tidak pernah
berselingkuh sebelumnya, Pak Tanba ternyata banyak belajar bagaimana
memperlakukan seorang perawan. Bu Wati membelai rambut Ayu.
“Nak Ayu, Ibu senang ngeliat Ayu dengan Bapak. Ibu juga senang bahwa
kalian saling menyayangi. Ibu sekarang merestui Nak Ayu dengan Suami
Ibu, “ ujar Bu Wati mantap.
Ayu terkejut. Ia tak menyangka ketulusan dan kebesaran hati Bu Wati mendukung suaminya.
“ Sekarang Ibu minta Nak Ayu malam ini nginep di rumah ini. Layani
Bapak. Ia amat butuh Nak Ayu. Kebetulan Anak bungsu Ibu sekarang nginep
di rumah kakaknya. Nak Ayu sama Bapak tidur di kamar kami, Ibu akan
tidur di kamar anak bungsu, “ ujar Bu Wati mantap.
Ayu terkejut. Bukan karena kerelaan Bu Wati ia bersetubuh dengan
suaminya di kamar mereka, tetapi Ayu tidak membawa pakaian ganti. Ayu
memang selalu membawa perlengkapan mandi, tapi ia tidak membawa celana
dalam. Bu Wati mengerti pikiran Ayu.
“Nak Ayu bisa pinjam baju anak Ibu untuk tidur. Memang bukan baju mahal,
tapi cukup untuk tidur. Kasian juga misal Nak Ayu mesti pulang dulu,
baru kesini lagi. Sudah jam setengah sepuluh malam. Kamar ibu juga Cuma
punya kipas angin, tapi Ibu yakin Nak Ayu juga sudah kangen dengan
bapak, “ jelas Bu Wati.
Dalam hati Ayu membenarkan perkataan Bu Wati. Ia memang sudah merindukan
belaian, cumbuan dan penis hitam besar Pak Tanba. Dan kini, istrinya
sudah merestui hubungan mereka. Kini mereka sudah bisa berhubungan tanpa
sembunyi-sembunyi lagi. Memikirkan itu, Ayu mengangguk.
‘Bentar ibu panggilkan Bapak dan Ibu kasih baju ganti buat Nak Ayu. Nak
ayu bawa alat mandi kan? Sekarang Nak Ayu mandi dulu, ganti baju ya, “
ujar Bu Wati.
Bu Wati lalu menuntun Ayu ke kamar mandi dan ke kamar pribadi Bu Wati dan Pak Tanba.
Bersambung...